top of page

Support Group

Public·8 members
Luke James
Luke James

Program Pemberantasan Penyakit Diare


Diare adalah buang air besar dengan konsistensi cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam satu hari). Dua kriteria penting harus ada yaitu buang air besar cair dan sering, jadi misalnya buang air besar sehari tiga kali tapi tidak cair, maka tidak bisa disebut daire. Upaya pencegahan yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Matakali untuk mengatasi peningkatan kasus diare yaitu penyehatan lingkungan dan penyuluhan yang dilakukan di setiap umur baik Balita sampai dengan lansia dengan menggunanakan alat seperti poster, leaflet, lembar Balik penyuluhan dan memberikan pelatihan kepada kader posyandu sedangakan penyehatan lingkungan yang dilakukan oleh petugas kesling yaitu memeriksa kantin sehat disekolah, memeriksa air bersih di masyarakat, penyuluhan dengan pengelolaan sampah yang baik dan mengawasi kepemilikan jamban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program penanggulangan diare di Puskesmas Matakali dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian berjumlah 4 orang yaitu Kepala Puskesmas, P2p diare, Sanitarian dan masyarakat yang terkena kasus diare. Analisis data yaitu reduksi data, tampilan data dan kesimpulan gambar/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program penanggulangan diare dilaksanakan, hambatan yang didapatkan yaitu adanya rangkap jabatan oleh petugas diare, kurangnya alat penyuluhan, kurangnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan pencegahan diare dan masyarakat yang menganggap penyakit diare tidak terlalu bahaya serta masih percaya dengan kebiasaan-kebiasaan terdahulu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peran dari tenaga kesehatan sangat dibutuhkan agar program diare dapat berjalan secara optimal, rendahnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan seperti pengolahan sampah dan penggunaan jamban yang masih belum menyeluruh.




Program Pemberantasan Penyakit Diare



Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan meningkat tajamnya angka kesakitan diare dari tahun ke tahun. Untuk pencegahan dan meminimalisir peningkatan angka kematian diwilayah kerja puskesmas air itam. Maka UPTD Puskesmas Air Itam membuat POJOK LROA (L: Layanan R: Rehidrasi O: Oral A: Aktif) di Pustu dan poskesdes wilayah kerja Puskesmas Air Itam.


Penyakit diare masih menjadi perhatian pemerintah, salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan kejadian diare adalah dengan pengadaan program pencegahan dan pengendalian penyakit diare. Dinkes Kabupaten Langkat menunjukkan jumlah kasus diare mengalami kenaikan pada tahun 2016 sebanyak 12.821, dan pada tahun 2017 meningkat sebesar 17.897. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran program pencegahan dan pengendalian penyakit diare di Dinkes Kabupaten Langkat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif. Subjek penelitian diambil berdasarkan purposive sampling berjumlah 1 orang yaitu Staff P2PM bidang/program diare Dinkes Kabupaten Langkat. Hasil penelitian menjunjukkan bahwa Dinkes Kabupaten Langkat terdapat satu petugas pelaksana program diare yang juga bertugas sebagai pemegang program HIV/AIDS, belum ada pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan petugas dalam melaksanakan program diare dikarenakan belum adanya dana yang dialokasikan untuk kegiatan ini, penyediaan logistik seperti obat-obatan telah tersedia, upaya penjaringan kasus dilakukan dengan melakukan home visit, promosi kesehatan terkait diare tidak dilakukan secara rutin, beberapa puskesmas yang letaknya jauh menyebabkan laporan yang tidak lengkap dan tidak tepat waktu serta kader kesehatan kurang aktif dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan hasil tersebut, diharapkan kepada Dinkes Kabupaten Langkat agar melaksanakan promosi kesehatan terkait diare secara rutin minimal 3 bulan sekali dan menindak tegas dengan memberikan sanki kepada puskesmas yang datanya tidak lengkap dan tidak tepat waktu sehingga ke depannya dapat diperbaiki kelengkapan dan ketepatan datanya.


Klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan adalah dua hal yang saling terkait. Klinik sanitasi merupakan inovatif program promosi kesehatan yang berbasis kesehatan lingkungan. Klinik sanitasi ini bermanfaat untuk menanggulangi penyakit berbasis lingkungan. Kegiatan klinik sanitasi, bisa berupa konseling, kunjungan rumah (home care) dan intervensi kesehatan yang didasarkan atas analisis kesehatan lingkungan.


Dengan kata lain, klinik sanitasi merupakan inovatif program promosi kesehatan yang berbasis kesehatan lingkungan. Klinik sanitasi ini bermanfaat untuk menanggulangi penyakit berbasis lingkungan. Kegiatan klinik sanitasi, bisa berupa konseling, kunjungan rumah (home care) dan intervensi kesehatan yang didasarkan atas analisis kesehatan lingkungan.


Atas dasar data tersebut, lalu diupayakan dan dilakukan oleh petugas kesehatan lingkungan yang mencakup, antara lain: penyediaan/penyehatan air bersih dan sanitasi dalam rangka pencegahan/penanggulangan penyakit ( diare, cacingan, kulit, kusta, frambusia, dll.); penyehatan perumahan dalam rangka pencegahan penyakit ISPA (TB Paru); penyehatan lingkungan pemukiman dalam rangka pencegahan penyakit demam berdarah dengue, malaria, dan filariasis.


Penyakit diare di Kota Cirebon masih merupakan masalah dari tahun ke tahun. Penyakit ini selalu ada dan dapat menimbulkan kejadian luar biasa, dan menyebabkan kematian. Pola kematian menurut penyakit, penyebab kematian pasien kunjungan di puskesmas Kota Cirebon untuk semua golongan umur tidak ditemukan adanya angka kematian diare.Dari data laporan yang dilaporkan oleh seluruh Puskesmas angka kesakitan diare sebanyak 28648 penderita dengan golongan umur 5 Tahun : 15196 penderita. Hal ini menunjukkanmasih tingginya angka incident diare di Kota Cirebon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas kerja petugas P2 Diare yang ada di puskesmas-puskesmas Kota Cirebon tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dengan jumlah populasi 37 dengan sampel 37 petugas yang tersebar di wilayah puskesmas Kota Cirebon. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap ibu balita, menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan uji T-test. Hasil Penelitian menunjukkan lebih dari setengah petugas diare puskesmas menunjukan kualitas kerja yang baik. Ada hubungan yang bermakna antara sarana yang tersedia dengan kualitas kerja petugas diare puskesmas, ada hubungan yang bermakna antara faktor kepemimpinan dengan kualitas kerja petugas diare puskesmas, tidak ada hubungan yang bermakna antara faktor pendidikan dengan kualitas petugas diare puskesmas. tidak ada hubungan antara faktor pelatihan dengan kualitas kerja petugas diare puskesmas, tidak ada hubungan antara faktor keterampilan dengan kualitas kerja petugas diare puskesmas, tidak ada hubungan antara faktor monitoring evaluasi dengan kualitas kerja petugas diare.


Upaya kesehatan yang dilaksanakan puskesmas ialah promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Upaya-upaya tersebut berupa upaya kesehatan wajib dan kesehatan pengembangan. Salah satu upaya yang wajib dilaksanakan puskesmas ialah program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), penelusuran KLB, dan Surveilans penyakit. Kedua program ini sangat erat kaitannya dalam membangun kesehatan masyarakat berbasis wilayah kerja yang merupakan tugas dan fungsi pokok puskesmas. Program ini sangat penting di Indonesia mengingat masih tingginya angka kejadian penyakit menular yang seharusnya dapat dicegah.


1. Promosi KesehatanMenurut Hendrik L.Blum, perilaku merupakan salah satu komponenyang mempengaruhi status kesehatan. Perilaku bukan merupakan hasil yangdapat dilihat secara langsung sebagai akibat dari penerapan program/pendidikan kesehatan tetapi merupakan hasil jangka menengah dari program/pendidikan kesehatan. Jika perilaku kesehatan masyarakat baik, adakemungkinan program/ pendidikan kesehatan juga berhasil, yang padaakhirnya akan berpengaruh pada peningkatan cakupan indikator kesehatan.Promosi kesehatan merupakan program yang dirancang untukmemberikan perubahan terhadap manusia, organisasi, masyarakat danlingkungan. Masalah kesehatan itu tidak hanya timbul oleh adanya kumanpenyakit tapi juga dipengaruhi oleh perilaku manusia. Dengan adanya promosikesehatan akan mampu mencegah terjadinya penyakit dengan carameningkatkan kemampuan orang dalam mengendalikan dan meningkatkankesehatannya. Dengan demikian penyuluhan merupakan hal yang tidakterpisahkan dari setiap program kesehatan. Dimana tujuan programpenyuluhan masyarakat adalah mencapai perubahan prilaku individu,keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara prilaku sehat sertaberperan aktif dalam upaya mewujutkan derajat kesehatan yang optimal. 2. Kesehatan LingkunganFaktor kesehatan lingkungan merupakan faktor terbesar yang dapatmempengaruhi derajat kesehatan. Dalam hal ini apabila kesehatan lingkunganberada dalam kondisi optimal, maka akan berpengaruh positif terhadapterwujudnya status kesehatan yang optimal pula.3. Kesehatan Ibu Anak dan KBPengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan meningkatkanjangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien. Denganadanya Program KIA dan KB dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI),Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA).4. Perbaikan Gizi MasyarakatKegiatan program Gizi meliputi kegiatan perbaikan gizi masyarakat danperbaikan gizi institusi. Kegiatan pada perbaikan gizi masyarakat antara lainPemantauan status gizi, pertumbuhan balita, ASI Eksklusif, pemberian tabletdarah, pengukuran LILA pada bumil dan WUS, distribusi vitamin A, kadarzi,garam beriodium, pelacakan gizi buruk, pemeriksaan anemia bumil,pemberian PMT, penyuluhan gizi dan pembinaan posyandu.a. Kurang Energi Protein ( KEP )Pada tahun 2018 ditemukan 15 kasus Kurang Energi Protein (KEP) dari1236 balita. Balita dengan BGM pada tahun 2018 ditemukan sebanyak 3orang.b. GAKYGAKY atau Gangguan Akibat Kekurangan Yodium hingga saat ini masihmenjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia mengingat dampaknyaProfil UPTD Puskesmas II Mendoyo 2018 24yang cukup besar terhadap kualitas sumber daya manusia. KekuranganYodium dalam jangka panjang diantaranya dapat mengakibatkan gondok,penurunan kecerdasan dan kretin (Kerdil).Program penanggulangan GAKY di Puskesmas II Mendoyo dilaksanakandalam bentuk penyuluhan dan pemantauan garam beryodium. Kegiatanpemantauan garam beryodium dilaksanakan secara rutin sekali setahun yaitupada bulan Agustus dengan melibatkan siswa SD/ MI sebagai pendukungpengambilan data. Dari pemantauan yang dilaksanakan pada tahun 2018didapatkan hasil 98% masyarakat sudah mengkonsumsi garam beryodium,lebih besar dari target yang ditetapkan yaitu 85%.b. Penanggulangan AnemiaPemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil dan Ibu Nifasmerupakan salah satu kegiatan rutin dalam rangka menanggulangi Anemia.Cakupan pencapaian Fe1 (30 Tablet) pada tahun 2018 adalah sebesar 104.92% dari target 100%, cakupan pencapaian Fe3 (90 Tablet) 101.97% dari target95%dan Fe Bufas sebesar 116.25% dari target 100%. Dari data diataspencapaian pemberian Fe1, Fe3 dan Fe bufas sudah mencapai target yangada.c. Vitamin AKegiatan rutin yang dilakukan dalam rangka penanggulanganKekurangan Vitamin A berupa distribusi kapsul Vitamin A (vit A Biru) padabayi (6-11 bulan) dan vit A merah pada balita 1-5 tahun dan ibu nifas (Vit Abufas). Jadwal pemberian kapsul Vitamin A pada bayi balita adalah padabulan Pebruari dan Agustus. Sedangkan pada ibu nifas adalah kapsul vit Adiberikan hingga hari kedua post partus.Cakupan pencapaian Vit A pada tahun 2018 untuk bayi sebesar 55.68% dari target 98% vitamin A untuk balita sebesar 96.50 % dari target 98% danvit A bufas sebesar 85.56% dari target 100%. Pemberian vitamin A pada bayidan balita belum mencapai target yang ditetapkan karena terlambatnyaProfil UPTD Puskesmas II Mendoyo 2018 25pengadaan kapsul vitamin A sehingga pembagian vitamin A bulan agustustertundad. ASI EksklusifASI Eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan pada bayi umur 0-6bulan tanpa disertai pemberian makanan dan minuman lain. Pencapaian ASIEksklusif pada tahun 2018 sebesar 58.79 % sedangkan tahun 2017 sebesar52,17 % di atas target yaitu 42%.5. Upaya Kesehatan PerkesmasPelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) merupakansalah satu upaya puskesmas yang mendukung peningkatan derajat kesehatanmasyarakat dengan memadukan ilmu/praktek keperawatan dengan kesehatanmasyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secaraberkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatifsecara menyeluruh dan terpadu, ditujukan kepada individu, keluarga,kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusiasecara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatan. Adapun kasuskasusyang dilayani kasus penyakit menular (TBC, Malaria, Kusta, HIV/AIDS),kasus penyakit tidak menular HT, DM, Stroke, Jantung), masalah kesehatangizi (gizi kurang dan gizi buruk). Di UPT Puskesmas II Mendoyo kegiatanperkesmas dilakukan setiap bulan dengan kunjungan rumah ke keluargarawan oleb pemegang wilayah masing-masing. Sehingga program perkesmasbisa berjalan dengan baik.6. Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak menulara. MalariaPada tahun 2018 tidak ditemukan kasus malaria di wilayah kerjaPuskesmas II Mendoyo. Pelacakan dan Penemuan Kasus Malaria secara dinidilakukan dengan pengambilan darah ACD dan PCD.b. TB ParuPada Tahun 2018 ditemukan 65 orang (34.21%) suspect TB. Darisuspect TB, setelah melalui pemeriksaan BTA sebanyak 6 orang (31,57 %)positif dan sembuh OAT sebanyak 9 orang (38.8%)c. Demam Berdarah Dengue (DBD)Pada tahun 2018 ditemukan sebanyak 2 kasus suspek DBD yangditemukan di desa yehembang kauh dan desa yehembang. Kasus DBDditemukan pada bulan Januari dan Maret 2018. Dari perbandingan dari tahun2016 terjadi penurunan drastis kasus DBD dan tidak ada dilaporkan kematianoleh karena penyakit DBD. Hal ini sudah sesuai dengan harapan angkakematian kasus DBD dibawah 210/100.000 kasus per tahund. KustaDi UPT Puskesmas II Mendoyo dari tahun 2016 -2018 tidak ditemukankasus kusta.e. DiareHingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatanmasyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya angkakesakitan diare dari tahun ke tahun. Program ini bertujuan untukmenurunkan angka kesakitan dan kematian karena diare terutama pada bayidan anak balita. Sasarannya adalah kelompok masyarakat/peroranganwilayah kerja UPT Puskesmas II Mendoyo dan di proritaskan pada desa yangtingkat pemakaian sarana kesehatan/hygiene perorangan dan kesehatan yangmasih rendah.f. ISPA (Pneumonia)Pada tahun 2018 ditemukan 24 kasus pneumonia. Terjadi peningkatanpenjaringan kasus pneumonia dari tahun sebelumnya tapi masih dibawahtarget yang ditetapkan. Masih rendahnya jumlah kasus pneumonia iniProfil UPTD Puskesmas II Mendoyo 2018 32menunjukan status derajat kesehatan balita yang sudah mulai meningkatkarena peran serta ibu-ibu balita yang segera memeriksakan balitanya kesarana pelayanan kesehatan.g. RabiesRabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang bersifatzoonosis (menular ke manusia). Virus rabies dikeluarkan bersama air liurHewan Penular Rabies (HPR) yang terinfeksi seperti anjing, kucing, kera danditularkan melalui luka gigitan atau jilatan. Pada tahun 2018 terdapat 211kasus gigitan HPR dan terbanyak dari desa yehembangh. PD3I (Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi)Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayiserta balita dilaksanakan program imunisasi. Beberapa penyakit yang dapatdicegah dengan imunisasi dasar diantaranya tuberculose, dipteri, pertusis,tetanus, hepatitis, polio dan campak.i. HIV/AIDSHIV (( Human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang seldarah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnyakekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS ( Acquired Immune DeficiencySyndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnyakekebalan tubuh. Penyakit HIV ini seperti fenomena gunung es dimana kasusyang diketahui hanya sebagian kecil saja padahal kasus ini sudah banyakterjadi. Di UPT puskesmas II mendoyo pada tahun 2014 sudah terdapatruangan VCT dan sampai tahun 2018 puskesmas sudah memiliki 6 orangkonselor. Dimana pasien-pasien yang ingin memeriksakan diri atau pasienyang dicurigai beresiko tertular HIV dapat memeriksakan dirinya ke VCT UPTPuskesmas II Mendoyo , tentu saja harus di dahului dengan konseling terlebihdahulu. Selama tahun 2018 sudah terdapat 269 orang yang sudah diperiksadan 3 orang hasilnya reaktifj. PTM (Penyakit Tidak Menular)Penyakit Tidak Menular adalah penyebab kematian terbanyak di indonesia.Penyakit menular sering dianggap tidak berbahaya dibanding penyakit menular.Padahal pembunuh nomer satu justru masuk pada katagori penyakit tidakmenular (jantung, DM). Program PTM di UPT Puskesmas II Mendoyo adalahprogram baru dimana kegiatannya adalah melalukan pendeteksian lebih diniterhadap penyakit HT, DM dan Kanker Servik. Dengan terbentuknya Posbindu(Pos Pelayanan Terpadu) serta gerakan IVADes di desa sewilayah kerja UPTPuskesmas II Mendoyo dapat dilakukan pendeteksian penyakit tidak menularProfil UPTD Puskesmas II Mendoyo 2018 35lebih dini untuk pelayanan luar gedung termasuk juga pelayanan dalamgedung dengan melakukan pemeriksaan IVA setiap hari kamis di poliklinik KIA.


About

Welcome to the group! You can connect with other members, ge...

Members

bottom of page